Share on facebook
Artikel


Hakikat Cinta

Tak ada tema yang abadi untuk dibahas selain masalah cinta. Lihat saja mulai dari lagu, prosa, puisi, novel bahkan film, semuanya didominasi tema cinta. Wajar, karena cinta adalah perasaan universal. Di mana-mana, di seluruh dunia, orang membutuhkan dan menginginkan cinta.

Bagi remaja, masalah cinta itu ibarat nasi yang bisa membuat mati lemas kalau tidak menyantapnya. Sayangnya, cinta sering ternoda justru oleh mereka yang sedang jatuh cinta. Tidak jarang, jatuh cinta malah menjadi ajang pelampisan hawa nafsu. Cinta tidak lagi menjadi sesuatu yang suci dan indah. Cinta sudah menjadi kubangan lumpur kemaksiatan. Lalu, sebenarnya apa hakikat cinta itu?

The Power of Love
Cinta tak terbatas
feeling, tapi memiliki kekuatan untuk mengubah dan menggugah. Orang yang merasakan cinta bisa mengubah dirinya demi orang yang dicintainya. Cinta dapat mengubah yang buruk bisa menjadi baik, yang urakan menjadi sopan, yang pendiam bisa jadi periang. Cinta juga bisa membuat orang menjadi kreatif, banyak pujangga dan musisi menghasilkan masterpiece (karya-karya hebat) karena dorongan cinta yang dirasakannya.

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam bukunya Raudah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin memberikan komentar mengenai pengaruh cinta dalam kehidupan seseorang. “Cnta itu bisa menyucikan akal, mengenyahkan kekhawatiran, mendorong untuk berpakaian yang rapi, makan yang baik-baik, memelihara akhlak yang mulia, membangkitkan semangat, mengenakan wewangian, memperhatikan pergaulan yang baik, serta menjaga adab dan kepribadian. Tapi cinta juga merupakan ujian bagi orang-orang yang shaleh dan cobaan bagi ahli ibadah,” ujarnya.

 Subhanallah! Cinta memiliki kekuatan yang luar biasa. Pantaslah kalau cinta membutuhkan aturan. Tidak lain dan tidak bukan agar cinta itu tidak berubah menjadi cinta yang membabi-buta, yang dapat menjerumuskan manusia pada kehidupan hewani dan penuh kenistaan. Jika cinta dijaga kesuciannya, manusia akan selamat. Para pasangan yang saling mencintai tidak hanya akan dapat bertemu dengan kekasih yang dapat memupus kerinduan, tapi juga mendapatkan ketenangan, kasih sayang, cinta, dan keridhaan dari dzat yang menciptakan cinta yaitu Allah SWT.

 
Allah SWT berfirman, “
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kamu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Ruum[30]: 21).

 Antara Cinta dan Pacaran
Bagi sebagian besar orang, cinta sangat identik dengan pacaran. Orang yang pacaran, pasti saling mencintai. Dan orang yang saling mencintai pasti pacaran. Sebenarnya apakah pacaran itu? Benarkah pacaran itu wujud atau penjelmaan dari cinta?

Dalam kamus Islam, pasti kita tidak akan menemukan satu pun rujukan tentang pacaran. Sebab, istilah pacaran tidak ada dalam sejarah dan tradisi Islam. Pacaran bukan jalan untuk menuju pernikahan. Satu-satu cara untuk saling mengenal adalah khitbah. Lalu, kepada siapa cinta itu diberikan?

1. Cintailah Allah SWT
Allah SWT sungguh pencemburu, dia tidak mau cinta hamba-Nya dibagi dengan cinta yang lain. Maka kita sebagai hamba Allah harus benar-benar mencintai Allah. Sebagaimana firmannya, “
Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya seakan mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat mencintai Allah.” (QS. Al-Baqarah [2]: 165).

Dalam ayat ini jangankan Allah tidak dicintai, yang mencintai Allah sama dengan makhluknya pun Allah tidak suka. Maka prioritas cinta kita yang pertama dan utama hanya kepada Allah SWT.

 2. Mencintai Rasulullah
Sabda Rasul bagi yang ingin merasakan manisnya iman (cinta) maka hendaklah ia mencintai Allah dan Rasulullah, “
Ada tiga golongan yang akan merasakan manisnya iman: pertama, adalah mereka yang mencintai Allah dan Rasulnya lebih dari selain kepada keduanya. Kedua orang yang saling cinta karena Allah dan Rasul. Ketiga seorang yang membenci kepada kekafiran sebagaimana dia benci dilemparkan ke dalam api neraka.” (Al-Hadis).

 3. Cinta kepada Orang Tua
Setelah Allah dan Rasul, prioritas cinta kita kepada kedua orang tua kita karena merekalah orang yang paling berjasa dalam hidup ini. Kasih sayang orang tua tidak akan penah lekang oleh zaman. Tidak akan hambur oleh waktu. Teramat durhaka bagi seorang yang mengabaikan cinta kepada kedua orang tua padahal kasih sayang mereka sepanjang masa. Hormati dan sayangi orang tua sebagaimana firman Allah di surah Al-Israa’ [17]: 23-24.

 4. Cintailah Sesama
Manusia memang tidak bisa hidup sendiri. Ia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan orang lain. Bahkan, Rasulullah menyampaikan bagi mereka yang berharap keridhaan Allah, hendaklah ia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri (Al-Hadis).

 Suatu saat Rasulullah didatangi oleh seorang sahabat yang menempatkan dirinya disamping Rasululah sembari berkata, “Ya Rasulullah saya mencintainya karena Allah. Apakah engkau sudah mengabarinya, tanya Rasul. Belum ya Rasulullah. Maka Rasul berkata, “Temuilah dan katakan kepadanya engkau mencintainya.”

 5. Cintai Alam Sekitar
Kita hidup sebagai manusia yang memiliki tugas mengemban amanah sebagai khalifah (pemimpin atau wakil Allah di muka bumi). Baik atau rusaknya alam ini disebabkan ulah tangan manusia. Maka, jika manusia ingin hidupnya sejahtera, aman dan nyaman, manusia harus mencintai lingkungan sekitarnya. Sehingga tidak terjadi bencana, polusi dan kerusakan-kerusakan lain karena ulah tangan manusia yang tidak bertanggungjawab.
Wallahu ‘alam bishshawab

 
Kemusrikan yang Menghinakan Martabat Kemanusiaan

Mengaku diri beriman adalah sesuatu yang mudah, namun diri kita diakui Allah swt. sebagai hamba yang beriman inilah yang tidak mudah. Keimanan kepada Allah tidak cukup lisan berucap mengaku diri beriman, ia menuntut konsekuensi yang sangat dalam dan luas serta suci dari noda-noda kebatilan. Keimanan kepada Allah diantaranya menuntut ketiadaan sekutu bagi-Nya. Firman-Nya dalam Al Quran, "Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar" (QS. Luqman:13) Demikianlah seorang ayah yang bertanggung jawab, ia menanamkan ketauhidan ini sejak dini. Hingga Allah swt mengabadikan peristiwa penting ini dalam kitab suci bagi Nabi terakhir-Nya agar menjadi teladan sepanjang jaman.

Selanjutnya...
 
Dahsyatnya Sedekah

Dimanakah letak kedahsyatan hamba-hamba Allah yang bersedekah? Dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, sebagai berikut :Tatkala Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptkana gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya,

Selanjutnya...
 
Belajar dari Wajah

Menarik sekali jikalau kita terus menerus belajar tentang fenomena apapun yang terjadi dalam hiruk-pikuk kehidupan ini. Tidak ada salahnya kalau kita buat semacam target. Misalnya : hari ini kita belajar tentang wajah. Wajah? Ya, wajah. Karena masalah wajah bukan hanya masalah bentuknya, tapi yang utama adalah pancaran yang tersemburat dari si pemilik wajah tersebut.

Selanjutnya...
 
Arti Sebuah Niat

ARTI SEBUAH NIAT

Dari Umar bin Khathab ra, Rasulullah SAW bersabda :

"Segala amal perbuatan bergantung pada niat dan setiap orang akan memperoleh pahala sesuai dengan niatnya. Maka barangsiapa yang berhijrah dengan niat mencari keuntungan duniawi atau untuk mengawini seorang perempuan, maka (pahala) hijrahnya sesuai dengan niatnya itu". (HR. Bukhari)

Selanjutnya...
 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 Berikutnya > Akhir >>

Halaman 1 dari 2